Jembatan Beratap Jepang dibangun pada akhir abad ke-16 oleh komunitas Jepang, yang aktif terlibat dalam perdagangan internasional melalui pelabuhan Hoi An. Struktur ini menghubungkan daerah tempat tinggal para pedagang Jepang dan Tiongkok.
Jembatan ini memiliki arsitektur yang tidak biasa: struktur kayu ditutupi dengan atap, melindunginya dari hujan tropis dan sinar matahari. Jembatan seperti ini jarang ditemukan di wilayah ini, menjadikannya landmark arsitektur yang unik.
Di tengah jembatan terdapat sebuah kuil kecil yang didedikasikan untuk praktik spiritual tradisional. Hal ini menjadikan struktur tersebut tidak hanya sebagai alat transportasi tetapi juga sebagai monumen keagamaan.
Selama berabad-abad, jembatan ini telah berulang kali dipugar, namun tetap mempertahankan penampilan historis dan signifikansi budayanya. Hingga kini, jembatan ini tetap menjadi simbol utama Hoi An dan sering digambarkan dalam materi wisata dan suvenir.
Bagi sebagian besar wisatawan, perkenalan mereka dengan kota ini dimulai dengan Jembatan Beratap Jepang, yang mencerminkan sejarah kaya kawasan ini dalam perdagangan internasional dan interaksi budaya.




